Sawahlunto, Sumatera Barat – Di balik jejak sejarah tambang
batubara yang melegenda, tersimpan sebuah tantangan besar: lahan-lahan kritis
yang "lelah" dan gersang. Namun, bagi Riki Ekoni, tanah yang dianggap
mati adalah kanvas untuk sebuah perubahan besar.
Sejak tahun 2019, Riki telah membuktikan bahwa dengan dedikasi dan pendekatan yang tepat, bekas lahan tambang bukan sekadar lubang di bumi, melainkan sumber nafas baru bagi kehidupan.
Restorasi Tanpa Henti: Dari Gersang Menjadi Produktif
Perjalanan Riki Ekoni selama lebih dari enam tahun bukanlah
jalan yang mudah. Mengubah tekstur tanah bekas tambang yang minim unsur hara
menjadi ekosistem yang stabil memerlukan lebih dari sekadar menanam pohon.
Melalui metode Integrated Farming (Pertanian Terpadu), beliau menciptakan
siklus kehidupan yang berkelanjutan:
• Pemulihan
Unsur Hara: Memperbaiki kualitas tanah secara alami agar mampu menyangga
kehidupan vegetasi.
• Sinergi
Ternak & Tani: Mengintegrasikan pengelolaan limbah ternak menjadi pupuk
organik, meminimalkan jejak karbon dalam proses pertanian.
• Keanekaragaman Hayati: Mengembalikan rumah bagi berbagai spesies lokal yang sempat hilang akibat aktivitas industri.
Membangun Benteng
Melawan Perubahan Iklim
Aksi nyata Riki Ekoni bukan hanya tentang estetika hijau, melainkan strategi bertahan hidup di tengah krisis iklim global. Dedikasi Riki Ekoni adalah pengingat bahwa pemulihan bumi dimulai dari tangan-tangan lokal yang peduli. Sebagai kandidat Kalpataru 2026 kategori Perintis Lingkungan, sosoknya mewakili harapan baru bagi Sawahlunto dan Indonesia.
Langkah beliau adalah bukti nyata bahwa jika kita memberi ruang pada alam untuk pulih, alam akan membalasnya dengan kehidupan."Memulihkan lahan bukan hanya soal menanam pohon, tapi soal menanam harapan untuk generasi yang akan datang."Mari bersama kita dukung dan apresiasi langkah nyata Riki Ekoni. Untuk Sawahlunto yang lebih sejuk, untuk bumi yang lebih hijau.